Di Italia ,
kelompok suporter Ultras dikenal sangat fanatik dalam mendukung tim. Dalam
beberapa tahun terakhir, kerusuhan baik di dalam maupun di luar stadion sering
pecah di Italia. Banyak yang menganggap segala insiden tak lepas dari ulah
kelompok suporter garis keras yang menamakan dirinya Ultras. Dengan segala
fanatismenya, Ultras dianggap sering menimbulkan masalah hampir di setiap
pertandingan, terlebih yang bernuansa rivalitas. Namun, ada hal menarik dari
kehadiran Ultras di Italia. Sebagai pendukung klub yang paling loyal, Ultras
ternyata memiliki hak suara untuk ikut menentukan kebijakan klub. Ultras di
Italia juga cenderung lebih terorganisir, bahkan hampir menyerupai sebuah
organisasi politik.
Diantaranya
adalah suporter Inter Milan. Suporter Inter Milan ini disebut dengan Curva Nord. Curva Nord Inter terdiri
dalam beberapa kelompok, mereka adalah Curva Nord 69, Boys S.A.N ( Squadre d’Azione Nerazzurre ), Ultras Inter,
Viking Inter, Brianza Alcoolica, Irriducibili.
- Curva Nord 69
2. Ultras Inter
Di Curva Nord, Ultras menjadi
yang tertua ke dua setelah Boys S.A.N. Mereka berdiri sejak 1975 dengan nama
Forever Ultras sebelum diganti pada 1995. Pelopornya adalah dua pemuda bernama
Luciano dan Curzio, yang pertama kali memunculkan spanduk bertuliskan Forever
Ultras di Curva Nord, tepat berdampingan dengan Boys S.A.N. Sejak 1997, Ivan
Renato menjadi sutradara Ultras setelah meneruskan era kepemimpinan sebelumnya.
3. Viking Inter
Kelompok
ketiga di Curva Nord ini terbentuk pada 1984. Viking juga dikenal sebagai salah
satu pendukung beraliran sayap kanan paling loyal di Italia. Sayang, mereka
kerap bersikap rasis. Kebetulan, Viking memang berhubungan sangat dekat dengan Blood
& Honour Varese (kelompok suporter yang menolak anti-rasisme di sepak
bola). Viking pun menjadi sangat menonjol di Curva Nord dengan indentitas
bendera paling besar di antara suporter Ultras Inter lainnya.
4. Brianza Alcoolica
Brianza
Alcoolica (semangat Brianza) memang baru resmi didirikan pada November 1985.
Namun, berbagai spanduk bertuliskan nama kelompok mereka sudah muncul beberapa
tahun sebelumnya di Madrid, Spanyol. Dipelopori oleh beberapa orang yang merasa
tidak cocok dengan segala kekerasan Curva Nord, Brianza Alcoolica memisahkan
diri dengan idealisme mereka untuk menciptakan hiburan di stadion. Mungkin
karena itu pula Brianza Alcoolica menjadi kelompok dengan jumlah suporter
paling sedikit di antara lima lainnya.
5. Irriducibili
Irridubicili menjadi
kelompok paling kontroversial di antara Ultras Inter lainnya. Berdiri sejak
1988, kelompok ini juga dikenal dengan nama “Skins” ini langsung membuat
kericuhan dengan menyerang setiap pendukung lawan yang datang ke Giuseppe
Meazza. Ciri khas Irridubicili adalah maskot seekor anjing hitam sebagai
lambang kejahatan atau keonaran bernama Muttley. Dengan slogan “Non basta
essere Bravi bisogna essere I migliori” (untuk menjadi yang terbaik, tidak
cukup dengan bersikap baik), tak heran jika jika Irridubicili kerap
berbuat onar di stadion. Bahkan mereka dengan terang-terangan mengaku setiap
mendukung Inter, tak akan pernah lepas dari minuman beralkohol.